çamaşır kurutma askısı

Diserang Hama, Setengah Hasil Panen Hilang

20160403PeriksaTanaman1
Petani di Desa/Kecamatan Legonkulon Kabupaten Subang sedang memeriksa tanaman padi beberapa waktu lalu. Selama musim tanam rendeng hingga akhir Maret 2016, lebih dari 1.500 hektar tanaman padi diserang empat jenis OPT dan sembilan hektar di antaranya mengalami puso.

Sebanyak 1.580 hektare area tanaman padi tersebar di berbagai daerah Kabupaten Subang diserang empat jenis organisme pengganggu tanaman. Akibat serangan empat jenis OPT, masing-masing penggerek batang, tikus, wereng batang coklat, dan bakteri hawar daun menyebabkan sembilan hektare di antaranya mengalami puso.

Sedangkan area terserang lainnya mengalami kerusakan bervariasi mulai ringan, sedang dan berat. Sedangkan lainnya, rusak ringan 1.507 hektare, sedang 32 hektare, dan berat 32 hektare.

“Ada empat jenis OPT yang serangannya dominan pada musim rendeng kali ini. Namun yang menyebabkan puso akibat serangan tikus, luas arealnya sembilan hektar terjadi di Desa Ciasem Hilir Kecamatan Ciasem, tanaman di sana yang sebelumnya mengalami rusak berat meningkat sehingga menjadi puso,” kata Kepala Bidang Produksi dan Pelindungan Tanaman, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Subang, Asep Heryana.

Dia mengatakan bila melihat areal tanaman yang terserang, OPT jenis bakteri hawar daun paling luas mencapai 528 hektare, tetapi intensitas serangannya ringan. Demikian pula dengan OPT penggerek batang, intensitas serangannya ringan seluas 380 hektar, dan WBC 287 hektare serangannya ringan.

“Paling bervariasi serangan tikus mulai ringgan hingga puso. Serangan Tikus ini menempati posisi kedua paling luas yaitu 385 hektar dan sembilan hektar di antaranya puso. Sedangkan serangan ringan 312 hektare, sedang 32 hektare, dan berat 32 hektare,” ujarnya.

Dikatakannya, berbagai upaya telah dilakukan, mulai antisipasi, hingga pengendalian. Setiap laporan ada serangan langsung ditindaklanjuti dengan penanganan. Sebab sesuai program pemerintah yaitu spot stop supaya serangan OPT tidak meluas ke area lain.

“Penanggulangan tikus telah dilakukan dengan cara gopyokan dan pengumpanan. WBC ditangani dengan penyemprotan, bakteri hawar daun dengan pemupukan N yang minimal, dan penggunaan varietas yang lebih tahan. Sedangkan penggerek batang penanganannya dengan pengumpulan kelompok telur, dan pengendalian harus dilakukan secara periodik,” katanya.

 

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com