çamaşır kurutma askısı

Ganti Sapi dengan Kambing

kambing3

Ada pemandangan yang unik di Istana Negara, Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (27/8). Pada hari-hari biasa, Istana yang berada di dalam kawasan Kebun Raya Bogor tersebut dipenuhi kawanan Rusa dan burung-burung. Namun, kali ini, mata para pengunjung tersita oleh 875 ekor domba dan 400 ekor kambing yang diikat dan dijaga para pemiliknya.

Domba dan kambing tersebut bukan sembarangan berada di sana. Hari itu, para peternak domba garut dan kambing dari seluruh daerah di Provinsi Jawa Barat sedang mengikuti sebuah kontes yang diadakan khusus dalam rangka hari kemerdekaan RI.

Kontes domba dan kambing itu bukan saja telah menorehkan sejarah emas bagi para peternak kedua hewan ruminansia tersebut. Selain baru kali itu domba dan kambing bisa masuk Istana Sang Presiden sepanjang sejarah Republik ini ada, acara kontes domba dan kambing juga membawa pesan lain yang tak kalah bermakna. Pemerintah tampaknya makin tergugah untuk menggelorakan pemenuhan protein hewani dari kambing dan domba.

Selama ini, masyarakat cenderung lebih memilih daging sapi sebagai asupan utama protein hewani yang dibutuhkannya. Padahal, sejatinya kambing dan domba punya kandungan protein yang lebih kaya. Tentunya, juga lebih menyehatkan.

Sejak dahulu, Indonesia terkenal dengan tanahnya yang subur dan tidak mengalami perubahan musim yang ektsrem, seperti musim dingin dan musim panas layaknya di sejumlah negara di dunia. Dengan kondisi tanah dan musim yang kondusif, Nusantara sebenarnya sangat cocok untuk budi daya peternakan. Apabila dikombinasikan dengan tingkat perekonomian masyarakat yang belum mencapai taraf kaya dan sejahtera, maka seharusnya peternakan kambinglah yang menjadi jawaban untuk pemanfaatan kondisi lahan tersebut. Sebab, berternak kambing dan domba tidak membutuhkan modal yang besar dan lahan yang luas. Selain itu, ilmu dan teknologi yang diperlukan untuk berternak kambing dan domba relatif sederhana. Apalagi, jika hanya untuk peternakan skala rakyat dengan jumlah ternak yang terbatas.

Sayangnya, masyarakat saat ini, terutama penduduk di kota-kota besar, justru menyandarkan kebutuhan protein hewani mereka pada daging sapi. Lantaran peningkatan populasi sapi dengan pertumbuhan konsumsi yang tidak jalan beriringan, buntutnya masyarakat juga yang selalu dihebohkan dengan masalah harga. Harga daging sapi bisa melambung tiba-tiba. Muaranya, gonjang-ganjing impor daging sapi selalu berulang setiap tahun, seperti tak pernah ada upaya keluar dari jeratan yang serupa.

Para peternak kambing dan domba yang hadir di Istana Negara Bogor sadar betul, sudah saatnya masyarakat kembali melirik peternakan kambing. Sudah saatnya pula menjadikan kambing sebagai pengganti atau substitusi kebutuhan daging nasional. Daging kambing tidak boleh dinomorduakan lagi dibandingkan daging sapi.

Alasannya sederhana. Pertama, ketersediaan kambing dan domba lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pertumbuhan populasinya pun bagus. Saat ini, jumlah kambing dan domba di Indonesia mencapai 36 juta ekor dengan pertumbuhan rata-rata 5,8 persen per tahun. Padahal, bisa dibilang peternakan kambing dan domba dalam skala industri masih bisa dihitung jari. Betapa jumlah populasinya bisa bertambah lebih banyak manakala pemerintah mendorong terbentuknya peternakan-peternakan kambing dan domba guna keperluan industri.

Kedua, kandungan protein hewani kambing lebih bagus dibandingkan sapi. Selama ini, informasi yang beredar kerap menyebutkan kambing memiliki kandungan kolestrol jahat yang tinggi. Isu yang benar-benar menyesatkan.

Lihat saja data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA). USDA menyebutkan, kambing (goat) memiliki lemak jenuh paling rendah dibandingkan ayam maupun sapi, yakni 2,6 gram per 100 gram masak. Adapun lemak jenuh ayam mencapai 6,3 gram per 100 gram masak, sedangkan sapi lebih tinggi lagi, yakni mencapai 7,9 gram per 100 gram masak. Bahkan, kolesterol kambing juga paling rendah, yakni 63,8 gram dibandingkan ayam (76 gram) dan sapi (73,1 gram). Data USDA ini seharusnya bisa menjawab kekhawatiran sebagian orang yang enggan mengonsumsi daging kambing dengan alasan takut kolesterol dan lemak jenuh.

Selain masalah gizi, masih banyak keuntungan lain yang bisa diperoleh dari beternak kambing dibandingkan sapi. Antara lain, kambing bisa diternak dalam jumlah kecil. Mengurusnya pun lebih mudah dibandingkan sapi, yang tentunya butuh pakan sangat banyak. Kambing bisa langsung cepat besar dan diambil dagingnya setelah dua tahun. Artinya, lebih cepat 3-5 tahun dibandingkan sapi.

Kemudian, setiap keluarga dengan halaman kecil dapat memelihara kambing sendiri. Masa reproduksi kambing pun singkat, setiap tahun bisa beranak. Sekali beranak, rata-rata bisa melahirkan dua sampai tiga ekor anak kambing. Lambat laun, kambing-kambing itu bisa dijual. Belum lagi bila kita bisa memanfaatkan susunya.

Dengan semua pertimbangan tersebut, memelihara kambing secara langsung bisa meningkatkan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Karena itulah, pemerintah hendaknya benar-benar terus mengampanyekan konsumsi makan daging kambing. Di hadapan para peternak, Presiden Joko Widodo sudah menegaskan, masyarakat harus perlahan menggeser konsumsi daging sapi ke daging kambing jika ingin terbebas dari jeratan impor sapi. Kita semua berharap, semoga penegasan presiden ini bisa dijalankan dengan baik oleh para pembantunya di kabinet dan pemerintahan.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/08/29/ocnn862-ganti-sapi-dengan-kambing