çamaşır kurutma askısı

Harga Jagung Pipilan Anjlok, Peternak Ayam Gembira

jagungs
PETANI jagung sedang mengemas jagung di pinggir kebunnya di Blok Pamujaan, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka beberapa waktu lalu. Harga jagung kini anjlok dari Rp 6.700 per kg menjadi Rp 3.200 per kg. Turunnya harga jagung disambut baik para peternak ayam petelur.

Harga jagung pipilan kering di wilayah Majalengka anjlok secara tiba-tiba hingga Rp 3.500 per kg, dari Rp 6.700 menjadi Rp 3.200 per kg. Turunnya harga jagung pipilan disambut gembira para peternak ayam karena hal itu sangat mempengaruhi terhadap penurunan harga telur dan daging ayam.

Eman Suherman peternak ayam petelur mengatakan turunnya harga jagung pipilan ini sangat berpengaruh besar pada penurunan harga telur ayam di kandangnya. Karena kebutuhan jagung untuk pakan ayam setiap harinya cukup banyak hampir seimbang dengan pemberian dedak dan sentrat.

“Ketika harga jagung mahal penjualan telur tidak bisa murah, karena ternak ayam lebih banyak menggunakan pakan jagung dibanding pakan lainnya sebagai campuran pakan,“ ungkap Eman yang sudah puluhan tahun menjadi pengusaha telur ayam.

Dia mengatakan setiap harinya kebutuhan jagung untuk pakan ayamnya mencapai 1 ton lebih, makanya ketika harga jagung cukup mahal dirinya tidak bisa menjual telur dibawah harga Rp 18.000 per kg.

“Bagi peternak ayam petelur mahalnya harga DOC tidak begitu banyak mempengaruhi usaha, demikian juga dengan harga sentrat yang kini mencapai 7.800/kg, namun ketika harga jagung mahal itu sangat berdampak besar karena pakan mengandalkan jagung. Terlebih usia ayam bisa mencapai 2 tahun berbeda dengan ayam pedaging,” ungkap Eman.

Rudi salah seorang peternak ayam pedaging juga menyambut baik turunnya harga jagung, namun pengusaha ayam pedagang kini merugi karena pembelian DOC yang mahal mencapai Rp 7.700 per ekor. Sementara kini harga daging ayam di pasaran hanya mencapai Rp 28.000 per kg sementara dari tingkat peternak ayam harga dibawah Rp 18.000 per kg. Karena harga Rp 18.000 per kg itu di tingkat pemotong.

“Harga dari peternak bisa mencapai Rp 16.000 per kg, makanya ketika harga daging tiba-tiba anjlok hampir seluruh peternak rugi. Karena ketika membeli DOC harga mahal, pakan juga mahal tiba-tiba harga daging di pasaran anjlok makanya pantas banyak peternak ayam yang usahanya masih kecil pada bangkrut,” ungkap Rudi.

Mereka menyebutkan dengan mahalnya harga telur atau daging ayam tidak otomatis menguntungkan para peternak, karena hal itu akan berdampak pada tingkat pemasaran. Dengan harga mahal pemasaran justru akan lesu sementara pengusaha ayam harus tetap berjalan. Bila usaha tidak berjalan tidak hanya menghentikan pendapatan namun juga tekanan dari pemerintah ataupun pedagang eceran akan sangat tinggi.

“Ketika harga telur atau daging mahal jangan mengira pengusaha akan memperoleh untung yang besar, karena biaya yang kami keluarkan juga cukup besar belum lagi tekanan dari mana-mana yang menuding sabotase atau mapia akan muncul. Padahal bagi pengusaha kecil usahanya bisa berjalanpun sudah bersukur,” ungkap Eman.

Kepala Dinas Perhutanan Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Majalengka Wawan Suandi mengatakan turunnya harga jagung diharapkan bakal menguntungkan para peternak ayam. Penurunan harga pakan diharapkan bisa menutupi bekas biaya pembelian DOC yang sebelumnya cukup mahal. Dengan demikian kerugian peternak tidak terlalu besar.

“Bersyukur peternak ayam di Majalengka hingga saat ini tidak ada yang bangkrut semua peternak masih bsia berjalan dengan baik. terlebih kini harga jagung turun tajam,” kata Wawan.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com