çamaşır kurutma askısı

Mencegah Pemotongan Sapi Betina yang Masih Produktif

20171010_224135_resized

SUBANG, (PR).- Penyelamatan sapi betina produktif terus digencarkan pemerintah dengan meningkatkan pengawasan di hulu dan hilir. Pasalnya, pemotongan sapi betina produktif masih rawan terjadi di Jabar, baik di rumah potong hewan maupun di tempat potong hewan.

Seperti temuan lima sapi betina asal Kabupaten Pati Jawa Tengah yang diduga masih produktif, hendak dipotong di Rumah Potong Hewan Pagaden, Kabupaten Subang, Selasa, 10 Oktober 2017 malam. Pada malam yang sama, sidak pun dilakukan ke RPH Subang, tetapi belum ada sapi yang dipotong.

Tim yang melakukan sidak, yaitu Kepala Subdirektorat Pengawasan Sanitari dan Keamanan Produk Hewan Ditjen PKH Kementerian Pertanian Agung Suganda, Kabid Keswan Kesmavet DKPP Jawa Barat Arif Hidayat, Kasubdit Gasum Direktorat Samapta Korsabhara Baharkam Mabes Polri Joni Triharto, dan Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Subang Rahmat Faturahman, bersama jajaran masing-masing.

Kepala Subdirektorat Pengawasan Sanitari dan Keamanan Produk Hewan Agung Suganda mengatakan, penyelamatan sapi betina produktif, salah satunya meliputi pengendalian pemotongan sapi betina produktif. Dia menargetkan 17 provinsi sebagai proyek percontohan tahun ini dan diharapkan bisa 34 provinsi tercakup program ini pada 2018.

Dari 17 provinsi, kata Agung, ada 40 rumah potong hewan di kabupaten/kota yang menjadi proyek percontohan. Dia menegaskan, Jabar merupakan salah satu dari tujuh daerah, selain Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung, yang menjadi tulang punggung keberhasilan Upsus Siwab karena jumlah sapi di Jabar cukup banyak.

“Pola pemeliharaan sapi di Jabar secara intensif sehingga mempermudah program inseminasi buatan,” ucap Agung, Rabu, 11 Oktober 2017.

Dia menekankan, penyelamatan sapi betina produktif di Jabar sangat penting karena menjadi barometer nasional. “Kondisinya jelas genting. Apalagi, Jawa Barat dekat dengan ibu kota. Sedikit saja ada pemberitaan yang negatif lebih cepat tercium dan menjadi barometer nasional,” ujarnya.

Di Jabar, Agung menyebutkan, Kabupaten Cirebon dan Subang dipilih sebagai proyek percontohan lantaran diduga pemotongan sapi betina produktifnya cukup tinggi. Indikasi itu terlihat dari banyaknya tempat pemotongan hewan (TPH) yang tersebar dan kurang terpantau.

“Kadis Peternakan Subang sebut masih banyak TPH di Subang. Ini menjadi PR bagi kita semua agar mendorong pemotongan di rumah potong agar terpantau. Kalau di TPH, petugas dinas juga terbatas untuk melakukan monitoring TPH yang tersebar,” ucapnya.

Belum diketahui pasti

Dia melanjutkan, upaya untuk menarik pemotongan dari TPH ke RPH harus terus dilakukan sehingga pengendalian atau pengawasan akan lebih mudah. Pengawasan pun harus dari hulu, mulai dari peternak, pasar hewan, check point, serta memberikan Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR) dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).

Kabid Keswan Kesmavet DKPP Jawa Barat Arif Hidayat menambahkan, masih banyak TPH yang beroperasi di Jabar sehingga belum diketahui pasti tingkat penyembelihan sapi betina produktif. Dari 31 unit RPH pemerintah, baru 8 unit yang bersertifikat NKV.

Menurut Arif, Cirebon dan Subang dipilih lantaran laporan adanya temuan pemotongan sapi betina produktif cukup tinggi dibandingkan daerah lain. “Cirebon ada budaya memakan empol gentong. Tanpa lihat statistik pun, betinanya banyak dipotong. Kenapa Subang dipilih? Dari sistem pelaporan pemotongan sapi melalui SMS gateway, kebetulan Subang teh dipilih karena tinggi,” katanya.

Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Subang Rahmat Faturahman menyatakan, di Subang terdapat 2 RPH pemerintah serta 12 TPH yang tersebar dan dikelola masyarakat. Untuk menekan terjadinya pemotongan betina produktif, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi bersama kepolisian kepada pemilik ternak, pemotong, dan juru sembelih di setiap RPH dan TPH.***

http://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2017/10/11/mencegah-pemotongan-sapi-betina-yang-masih-produktif-411329