çamaşır kurutma askısı

RUMUSAN SEMINAR “Prospektif Ketahanan Pangan Indonesia Terhadap Global Food Security Index 2014”

LOGO

RUMUSAN SEMINAR

“Prospektif Ketahanan Pangan Indonesia Terhadap

Global Food Security Index 2014”

Jakarta, 26 Agustus 2014

Dalam rangka merumuskan kebijakan ketahanan pangan nasional untuk menghadapi kondisi pangan global, Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan (DKP) telah melaksanakan seminar dengan tema Prospektif Ketahanan Pangan Indonesia Terhadap Global Food Security Index 2014 pada tanggal 26 Agustus 2014 di Ruang Rapat Nusantara I Lantai 2 Badan Ketahanan Pangan – Kementerian Pertanian.  Hadir sebagai Narasumber dalam kesempatan tersebut adalah George Hadi Santoso (Country Director DuPont Indonesia) dengan materi Global Food Security Index 2014 yang dilanjutkan dengan pembahasan oleh Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS (Global Food Security Index 2014 dan Kebijakan Ketahanan Pangan ke depan), dan Dr. Drajat Martianto (Global Food Security Index 2014 dan Kondisi Ketahanan Pangan Indonesia). Seminar yang dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian ini dihadiri sekitar 90 orang yang terdiri dari : Pejabat Eselon I, Staf Ahli Menteri Pertanian, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Lingkup Kementerian Pertanian, Kelompok Kerja (Pokja) Teknis DKP yang beranggota pejabat dari Kementerian/Lembaga anggota DKP, Pokja Ahli DKP, Pokja khusus DKP, akademisi, organisasi masyarakat, dan pemerhati ketahanan pangan.

Adapun beberapa butir penting yang dibahas dalam seminar tersebut, antara lain :

  1. Global food security index (GFSI) merupakan instrumen untuk menilai kondisi ketahanan dan kerawanan pangan secara global, yang pertama kali diinisiasi pada tahun 2012 oleh The Economist Intelligence Unit (EIU). Instrumen ini menggunakan 28 indikator yang dibagi menjadi 3 indikator utama, yaitu: keterjangkauan, ketersediaan, kualitas dan keamanan pangan. Selain itu, GFSI juga menggunakan faktor eksternal, yaitu faktor harga pangan yang telah disesuaikan dengan pertumbuhan pendapatan, nilai tukar mata uang, dan koefisien harga pangan dunia terhadap harga pangan lokal yang akan digunakan sebagai salah satu butir pada penilaian dalam aspek keterjangkauan pangan masyarakat.
  2. Dari indeks ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang spesifik mengenai : faktor – faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan; hubungan antara faktor– faktor tersebut; pencapaian masing – masing negara; bagaimana suatu negara dapat memperbaiki sistem ketahanan pangannya; dan area prioritas perbaikan bagi suatu negara. Indeks ini pun mampu menyajikan identifikasi kelemahan dan kekuatan relatif yang dimiliki oleh suatu negara dibandingkan dengan negara lain.
  3. Indeks ini telah digunakan untuk mengukur skor ketahanan pangan dari 105 negara sejak pertama kali dikeluarkan pada tahun 2012 dan kini sudah mencapai 109 negara. Indonesia pada tahun 2014 menempati urutan ke 72 dari 109 negara tersebut dengan skor keterjangkauan sebesar 43,3; ketersediaan 51,1; kualitas dan keamanan pangan 42,0. Adapun indikator dengan skor terendah adalah anggaran untuk penelitian dan pengembangan pertanian, pendapatan perkapita, dan kualitas protein. Disamping ketiga hal tersebut, faktor tingginya korupsi dan masih kurangnya diversifikasi pangan juga termasuk dalam indikator dengan skor terendah tersebut.
  4. Skor ketahanan pangan yang dianalisis dengan GFSI tersebut diidentifikasi strategi peningkatan ketahanan pangan, yaitu Strategi Jangka Pendek – Menengah (peningkatan penelitian dan pengembangan di bidang pertanian, peningkatan akses pendanaan kepada petani, peningkatan kualitas protein, dan perbaikan sarana dan infrastuktur pertanian: jalan, jembatan, irigasi) serta strategi jangka panjang (meningkatkan pendapatan perkapita dan pemberantasan korupsi).
  5. Beberapa butir penting yang diperoleh dari seminar tersebut, sebagai berikut :
    1. Sejalan dengan telah diterbitkan UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, maka perwujudan ketahanan pangan harus berdasarkan kedaulatan dan kemandirian pangan dengan bertumpu pada hasil produksi dalam negeri. Sedangkan dari GFSI, poin ketersediaan pangan tidak disebutkan secara spesifik asal produknya sehingga bila akan diterapkan di Indonesia harus disesuaikan kembali, agar sealur dengan semangat kedaulatan dan kemandirian pangan.
    2. Ketahanan Pangan di Indonesia memiliki tujuan akhir, yaitu terwujudnya sumberdaya manusia yang mampu hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Oleh karena itu, pada penilaian dengan menggunakan GFSI agar lebih mencerminkan tingkatan “food security level“’ maka parameter yang digunakan harus mengacu pada standar (kecukupan gizi, keamanan pangan dll) sehingga lebih merepresentasikan tujuan dari pembangunan ketahanan pangan.
    3. Berdasarkan indikator GFSI, tampak nyata bahwa Food Security sangat dipengaruhi oleh banyak faktor dan mengisyaratkan pentingnya penanganan masalah ini secara multidisiplin dan multisektor. Oleh karena itu, keberadaan dan efektifitas kelembagaan Dewan Ketahanan Pangan, disamping Kelembagaan Pangan yang baru yang sedang disusun, menjadi sangat penting di masa mendatang dalam perencanaan dan pembangunan ketahanan pangan di Indonesia.
    4. Indikator GFSI sebagai instrumen pengukuran ketahanan pangan, dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Indeks ini tidak bersifat mutlak sehingga dapat dirubah indikator maupun pembobotannya. Oleh karena itu, di Indonesia implementasi GFSI dengan indikator yang telah disesuaikan dapat digunakan untuk membuat peta prioritas pembangunan ketahanan pangan sebagai implementasi menjadikan ketahanan pangan sebagai urusan wajib di daerah.
  6. Terdapat berbagai macam Indeks untuk mengukur ketahanan pangan seperti: Global Hunger Index (GHI), Food Price Index (FPI), Rice Bowl Index (RBI), Global Food Security Index (GFSI), dan Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA), namun demikian indeks tersebut hanya merupakan alat bantu atau sinyalemen untuk memberikan masukan terhadap kebijakan ketahanan pangan suatu Negara atau wilayah, bukan mencerminkan kondisi mutlak suatu negara atau wilayah terhadap ketahanan pangan.

Komentar